Hari Itu

  
     Hari itu, sebuah hari besar untukku dan teman-temanku, tak pernah terbesit dalam benakku kalau akan seperti itu akhir dari hari itu, pagi itu ku rasa senang karena akan bertemu teman-temanku ditempat yang membuat aku seperti sekarang, ku buka hari itu dengan melihat kearah kendaraanku dengan tatapan penuh harapan akan diri yang bisa bersosialisasi untuk menambah kenangan yang aku inginkan. Hari itu, aku bersiap baik bekal fisik maupun mental mengumpulkan keberanian untuk datang ke tempat itu, dengan semangat tanganku menggemgam erat stang motor, dengan serius mataku melihat jalan yang aku lewati, dan dengan ditemani suara angin pagi yang menabrak helmku, aku berjalan menuju tempat itu. Hari itu, saat aku sudah dekat dengan tempat itu seketika aku terdiam di tepi jalan, rasa semangat yang aku ingat seakan-akan minggat dan berganti dengan rasa tak nyaman yang tidak aku harapkan, aku bertanya "Untuk apa kau kesini ?", "Sudahkah benar yang kau lakukan ?". Aku tau pertanyaan itu muncul karena rasa takut akan bergaul yang sering timbul dibenakku, lalu aku mengubah semua yang aku harapkan dengan tujuan yang baru, "Aku ke tempat itu untuk menghadiri haul guru", ucapku dalam hati. 
    Hari itu, para panitia acara itu mengadakan konfoi motor untuk memeriahkan acara, hatiku tak enak rasa saat mendengarnya, karena peserta konfoi sedikit, jadi aku beranikan diri untuk mengalahkan perasaan tak enak itu dan ikut dalam konfoi. Hari itu, konfoipun dimulai dari titik pertemuan yang sudah ditentukan, posisiku di bonceng waktu itu, dengan menggenggam bendera kebanggan ditanganku yang nantinya akan dikibarkan saat konfoi. Hari itu, konfoipun dimulai, seketika rasa tak enak itu semakin menjadi-jadi seperti api yang membesar saat diterpa angin, saat konfoi berjalan peserta yang lain memblok jalan seakan tak ada arah balik dalam benak mereka, mereka membunyikan klakson motor mereka seakan hanya tombol klakson yang ada di motor mereka, mereka menyuarakan motor mereka seakan itu bahasa yang tersisa di benak mereka. 
    Hari itu, ku tutup mukaku dengan bendera yang ku genggam, sedih yang ku rasa, cemas yang kurasa, marah yang ku rasa, aku tahan dengan sagat, tak bisa aku angkat kepalaku seperti menahan beban yang begitu besar karena menahan rasa-rasa itu, gemetar tanganku seperti diremdam di kolam es, dan menetes air mataku seperti air yang turun saat hujan. Hari itu, sesudah konfoi peserta yang lain langsung masuk ke tempat itu, tidak diriku, diriku hanya bisa jongkok di sudut di depan sekolah, sambil memeluk erat bendera yang aku bawa tadi, air mataku tak tertahan lagi, lemas badanku tak kuat lagi menahan rasa itu, lalu aku lepas semua rasa itu dengan rintihan kecil memanggil nama almarhum guruku yang ditemani dengan air yang menetes di celanaku, aku tak mengerti akan diriku sendiri, aku tak sadar akan tingkahku sendiri, "Apa ini ?" (tanyaku dalam hati), terbesit dibenakku seakan rasa itu menjawab "Aku rindu", ucapnya, "Kenapa bisa ada rasa ini ?" (tanyaku), "Aku buah dari pada cinta" (jawabnya). Hari itu, aku berfikir tentang rasa yang tak ku tau apa dan mengapa dia ada, yang aku tau saat itu, aku suka saat dia ada dan aku merasa sepi, bahkan rindu saat dia tidak ada. Kesimpulanku saat itu, bicara tentang cinta, menurutku cinta itu sebuah pohon yang buahnya adalah rasa rindu, kebanyakan manusia berbiacara bahwa dia cinta kepada suatu perkara, akan tetapi dia tak pernah merasa rindu dengan perkara tersebut, maka sejatinya pohon cintanya tidak tumbuh, sebagaimana sewajarnya cinta itu tumbuh didalam hati manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Multimedia Sebagai Media Pembelajaran